LITBANG TEKNOLOGI PENGOLAHAN DAN PEMANFAATAN BATUBARA
7 Oktober 2006
Kegiatan Litbang Teknologi Pengolahan dan Pemanfaatan Batubara meliputi litbang, perekayasaan dan pelayanan jasa di bidang karakterisasi, teknologi pengolahan, konversi dan pembakaran batubara.
Litbang ini dilakukan secara terpadu dengan kelompok-kelompok litbang lain yang ada di tekMIRA dengan sasaran utama mendukung program pemerintah dalam mengurangi subsidi BBM/kayu bakar melalui diversifikasi energi, peningkatan penggunaan batubara dalam negeri, penghematan dan peningkatan devisa melalui ekspor serta peningkatan PNBP seperti terlihat dalam Gambar 1.
Litbang Teknologi Pengolahan dan Pemanfaatan Batubara telah dirintis sejak awal tahun 1970-an, dan terus berkembang mengingat batu bara yang semula hanya dibakar untuk diambil panasnya, kemudian diproses untuk mendapatkan batubara dengan kualitas yang lebih baik atau bahan yang lebih bersih dan ramah terhadap lingkungan.
Sampai dengan akhir tahun 1980 sebagian besar kegiatan litbang teknologi pengolahan dan pemanfaatan batubara masih dalam skala laboratorium. Namun sesudah itu kegiatan litbang sudah mengarah kepada aplikasi dengan membangun berbagai pilot plant yang diharapkan dapat mengetahui optimalisasi proses, pengujian produk pada pengguna dan kelayakan ekonomi dari proses tersebut.
Untuk mempercepat implementasi hasil litbang teknologi pengolahan dan pemanfaatan batubara pada skala industri, tekMIRA sedang dan akan membangun beberapa pilot plant di Palimanan Cirebon dalam suatu Pusat Teknologi Batubara Bersih yang disebut Clean Coal Technology Centre atau disingkat Coal Centre.
Kegiatan unggulan Litbang Teknologi Pengolahan dan Pemanfaatan Batubara terdiri dari peningkatan kualitas batubara peringkat rendah melalui proses Upgraded Brown Coal (UBC), pengembangan briket, gasifikasi, pencairan dan pembuatan kokas. Sedangkan hasil yang sudah dapat diimplementasikan diantaranya penggunaan briket untuk peternakan ayam, pemindangan ikan, ekstraksi daun nilam dan penggunaan batubara sebagai bahan bakar langsung pada industri bata, genteng, kapur dan industri gula merah.
Litbang Teknologi Pengolahan dan Pemanfaatan Batubara didukung oleh fasilitas :
- Laboratorium penelitian dan penerapan.
- Laboratorium pengujian sifat kimia dan fisika yang telah terakreditasi berdasarkan ISO 17025.
- 51 orang tenaga fungsional terdiri dari peneliti, perekayasa dan teknisi dari berbagai keahlian berdasarkan disiplin ilmu, yang berbeda-beda antara lain : kimia dan fisika batubara, pengolahan batu bara dan teknologi pemanfaatan batu bara.
Untuk lebih mempercepat program Litbang Teknologi Pengolahan dan Pemanfaatan Batubara telah dilakukan kerjasama dengan berbagai institusi litbang baik di dalam negeri maupun luar negeri, antara lain :
- Pembangunan pilot plant briket bio batubara kerjasama dengan NEDO-METI, (Jepang).
- Pembangunan pilot plant peningkatan kualitas batubara peringkat rendah dengan proses UBC kerjasama dengan Kobe Steel (Jepang), JCOAL (Jepang) dan BPPT.
- Pencairan batubara Indonesia kerjasama dengan NEDO (Jepang) dan BPPT.
- Daur ulang minyak bekas dengan menggunakan batubara sebagai absorban, kerjasama dengan KOBE Steel (Jepang) dan LEMIGAS.
- Proses pengeringan teh dengan batubara melalui gasifikasi kerjasama dengan PPTK Gambung.
- Pengujian sifat kimia dan fisika batubara kerjasama dengan PT. Surveyor Indonesia, PTBA dan perusahaan batubara lainnya.
Pembangunan dan kegiatan litbang pilot plant briket biobatubara dan pilot plant UBC dilakukan di SENTRA TEKNOLOGI PEMANFAATAN BATUBARA DI PALIMANAN CIREBON.
Karya Litbang Teknologi Pengolahan dan Pemanfaatan Batubara yang meliputi teknologi pengolahan, teknologi konversi dan teknologi pembakaran yang diaplikasikan, diantaranya :
1. Teknologi Pengolahan
- Peningkatan kualitas batubara peringkat rendah dengan proses Upgraded Brown Coal (UBC).
- Percobaan penerapan teknologi coal water fuel sebagai bahan bakar boiler pada industri tekstil.
- Pengembangan metode penurunan kadar natrium batubara Lati, Berau, Kalimantan Timur.
- Pengembangan metode pencampuran batubara (coal blending) Kalimantan Tengah untuk pembuatan kokas metalurgi.
- Pencucian batubara.
- Desulfurisasi limbah batubara dengan flotasi kolom.
2. Teknologi Konversi
- Pengembangan briket kokas dari batubara dan green coke.
- Proyek pencairan batubara 2002 : uji tuntas (due diligence) pre-FS Batu Bara Banko.
- Pengembangan briket bio coal Palimanan.
- Pemanfaatan produk gasifikasi batubara untuk pengeringan teh di Gambung Ciwidey, Jawa Barat.
- Briket kokas untuk pengecoran logam.
3. Teknologi Pemanfaatan Batubara
3.1. Bahan Bakar Langsung
- Penyerapan gas SO2 dari hasil pembakaran briket bio batubara dengan unggulan zeolit.
- Pengembangan model fisik tungku pembakaran briket biocoal untuk industri rumah tangga, pembakaran bata/genteng, boiler rotan dan pengering bawang.
- Tungku hemat energi untuk industri rumah tangga dengan bahan bakar batubara/briket bio batubara.
- Pembakaran kapur dalam tungku tegak system terus menerus skala komersial dengan batubara halus menggunakan pembakar siklon.
- Tungku pembuatan gula merah dengan bahan bakar batubara.
- Pembakaran kapur dalam tungku system berkala dengan kombinasi bahan bakar batubara – kayu.
- Pembakaran bata-genteng dengan batubara.
3.2. Non Bahan Bakar
- Pengkajian pemanfaatan batubara Kalimantan Selatan untuk pembuatan karbon aktif.
- Daur ulang minyak pelumas bekas dengan menggunakan batubara peringkat rendah sebagai penyerap.
sumber : Tekmira http://www.tekmira.esdm.go.id/
Up-grading Minyak Batubara
12 Juni 2005
PENGARANG :
Hartiniati
SUMBER :
Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia 2000, Vo. 2, No. 1 hal. 1-8. /HUMAS-BPPT/ANY
RINGKASAN :
As a transportation fuel, coal Liquefied oil requires certain quality improvement known as upgrading due to its higher concentrations of nitrogen, sulfur, oxygen dan aromatics than petroleum fraction. Experiments using small-scale fixed bed reactor show that there is an improvement in the quality of recycle-solvent used for coal liquefaction after first hydrotreatment. Coal slurry using first hydrotreated oil as solvent shows lower viscosity than that of non-hydrotreated oil, and if it is mixed with Banko coal, the coal concentration could achieve as high as 50%. Nitrogen and sulfur contents in hydrotreated oil are reduced to negligible level and the storage stability remarkably improves after hydrotreatment. The quality of fuel from second hydrotreatment is still lower than that of petroleum product in terms of ‘cetane number’, ’smoke point’, contents of sulfur and aromatics.
KATA KUNCI :
hydrotreatment, pencairan batubara, heteroatom, Banko, Yallourn
PENDAHULUAN :
Riset Pencairan Batubara untuk memproduksi BBM sintetis di Indonesia sudah berlangsung sejak awal tahun 1990-an, namun perkembangannya secara nyata dengan target komersial baru dimulai sejak awal tahun 1994, setelah perjanjian kerjasama riset ditandatangani antara BPPT dan NEDO.
Berbagai jenis batubara muda Indonesia telah diuji, dengan hasil yang sangat menjanjikan, hasil tertinggi diperoleh dari batubara Banko dengan produk minyak sekitar 70%. Dibandingkan dengan batubara Yallourn dari Australia yang hanya menghasilkan minyak <60%, hasil tersebut memang sangat signifikan, terutama dilihat dari segi biaya, dan harga minyak batubara yang semakin kompetitif. Hasil studi kelayakan menunjukkan bahwa batubara Banko dapat memproduksi BBM, produk setengah jadi, dengan harga sekitar US $ 18/barrel. Melihat harga minyak dewasa ini yang telah mencapai US$ 30- 32/barel, maka studi pencairan batubara ini sangat dirasa perlu untuk dilanjutkan hingga tingkat komersialisasi.
KESIMPULAN :
Hasil pengujian produk batubara cair melalui proses up-grading atau hydrotreatment menggunakan reaktor fixed bed dengan katalis Ni-Mo-P/Al2O, secara ringkas dapat dijelaskan sebagai berikut:
- Proses hydrotreatment tahap 1 ternyata dapat meningkatkan kualitas pelarut tertersirkulasi (recycle solvent) sebagai donor hidrogen pada proses pencairan batubara.
- Slurry batubara dengan menggunakan minyak hasil hydrotreatment tahap 1 menunj
PENINGKATAN KUALITAS BATUBARA INDONESIA BERKADAR RENDAH (UPGRADING INDONESIAN LOW GRADE COAL)
12 September 2003
Oleh:
Harijanto Soetjijo, Ulum A. Gani, Dewi Fatimah,
R. Amelia, Fuad Saebani, dan Zaenal
Sari
Konsumsi batubara di Indonesia terus meningkat seiring dengan irama pembangunan nasional dan bertambahnya penggunaan energi. Indonesia memiliki 36 milyar ton cadangan sumber daya batubara, tetapi sebagian besar daripadanya merupakan batubara yang termasuk pada jenis berkadar rendah. Penggunaan batubara berkadar rendah kurang disukai dan terbatas dibandingkan dengan jenis batubara bituminous atau antrasit dan penggunaannya untuk jangka panjang mengakibatkan dampak negatip terhadap lingkungan. Peningkatan kualitas batubara berkadar rendah dapat memberikan kontribusi yang sangat besar artinya baik bagi pihak produsen batubara karena nilai jual batubara yang bertambah maupun bagi masyarakat umum misalnya karena menurunnya jumlah polutan dari hasil pembakaran batubara. Studi peningkatan mutu batubara dengan metoda “shock expansion” untuk tahun pertama (2003) ini ditujukan untuk meneliti efek dari proses shock expansion terhadap struktur batubara pada umumnya dan pori-pori batubara pada khususnya. Diharapkan proses tersebut mampu memperbaiki kualitas batubara ditinjau dari kandungan air; abu, karbon terikat, zat terbang sehingga diperoleh mutu batubara yang makin baik. Hasil percobaan yang telah dilakukan menunjukkan bahwa proses shock expansion mampu memperbaiki kualitas batubara sub bituminous yang diperoleh dari daerah Bayah, Sukabumi. Berdasarkan percobaan yang diterapkan pada batubara Cimandiri ternyata proses mampu meningkatkan nilai kalorinya dari 6104 kal/Nm3 menjadi 7175 kal/Nm3 dan menjadi 7332 kal/Nm3 setelah diproses selama 24 jam dan 48 jam. Hal yang sama juga teramati pada batubara Cigagoler yang mengalami perbaikan mutu seperti yang diperlihatkan dengan naiknya nilai kalori dari 6284 kal/Nm3 menjadi 7097 kal/Nm3 setelah diproses selama 24 jam dan menjadi 7117 kal/Nm3 setelah diproses selama 48 jam.