sumber: http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=193264&kat_id=4

JAKARTA–Butuh payung hukum yang kuat dan dukungan dari presiden. emerintah berencana menggunakan batubara cair untuk mengurangi beban penggunaan bahan bakar minyak (BBM) yang semakin meningkat. “Kita harus mengurangi konsumsi Bahan bakar Minyak, salah satunya adalah bagaimana batubara bisa kita cairkan kemudian kita jadikan BBM dimana nantinya bisa menggantikan pemakaian BBM,” kata Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro seusai bertemu wapres Jusuf Kalla di Jakarta, Senin.

Menurut Purnomo untuk itu, ia membutuhkan payung hukum yang kuat dan kebijakan secara nasional oleh Presiden Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla. Namun ketika ditanyakan payung hukum seperti apa yang diinginkannya, Purnomo belum bisa menjawab karena ia harus mempresentasikan hal ini kepada Presiden Yudhoyono setelah kunjungan ke luar negeri.

“Yang jelas hal itu perlu dukungan dari Presiden Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk keluarkan kebijakan untuk menggantikan BBM ini,” kata Purnomo.

Menurut rencana produksi batubara cair tersebut akan dilakukan di Sumatra Selatan karena memiliki cadangan batubara yang sangat besar. Saat ini cadangan batubara Indonesia sangat besar masih sekitar 70 tahun. Untuk itu bisa digunakan sebagai pengganti BBM yang untuk kebutuhan nasional saat ini mencapai 85,6 juta kilo liter per tahun. Penggunaan batubara cair, tambah Purnomo, saat ini juga telah dilakukan di Afrika Selatan.

Sementara itu menanggapi peran OPEC akibat harga minyak dunia yang terus meningkat, Purnomo mengatakan OPEC tidak bisa lagi lakukan kontrol atas harga minyak dunia.

OPEC, tambahnya saat ini hanya memiliki pangsa pasar minyak dunia sebesar 40 persen. “OPEC tidak bisa berdaya dengan penjualan minyak yang tak bisa dikontrol,” katanya. Meskipun, tambahnya saat ini OPEC telah berusaha untuk menaikan produksinya hingga 500 ribu barel. Sejauh ini, tambahnya pemerintah Indonesia setuju dengan segala usaha apapun juga untuk menurunkan harga minyak dunia.

Seiring dengan meningkatnya permintaan dan ketatnya produksi minyak dunia, harga minyak di pasar dunia pada triwulan keempat tahun 2005 menurut perkiraan pengamat perminyakan, Dr Kurtubi, bisa mencapai 60 dolar AS per barel.

“Sekarang kita sudah masuk ke triwulan kedua tetapi harga minyak masih bertahan pada 55 dolar AS. Saya khawatir kalau selama triwulan ini harga tetap bertahan pada kisaran itu, harga minyak pada triwulan ketiga dan keempat akan jauh melebihi perkiraan saya,” katanya kemarin.

Jika pada triwulan kedua tahun 2005 harga minyak dunia masih berkisar 55 dolar per barel maka, menurut dia, Indonesia dan dunia harus bersiap-siap menerima kenyataan melambungnya harga minyak West Texas Intermediate/WTI (yang menjadi acuan perdagangan minyak mentah dunia-red) selama tahun
2005-2006 akan mencapai 60 dolar per barel.

Biasanya, kata dia, berdasarkan perilaku permintaan minyak di pasar dunia, pada triwulan kedua harga minyak akan tertekan sehingga menjadi lebih rendah dibandingkan dengan harga minyak pada triwulan sebelumnya meskipun tidak akan lebih rendah dari 40 dolar per barel (batas bawah patokan harga minyak OPEC).

Namun hingga memasuki masa-masa awal triwulan kedua tahun 2005 harga minyak di pasaran dunia sama sekali tidak mengalami penurunan. “Hal ini terjadi karena faktor fundamental dimana permintaan minyak dunia sangat tinggi tahun 2005. Saya perkirakan jumlahnya mencapai 84 juta barel per hari atau sekitar
2 juta barel lebih banyak dibandingkan permintaan minyak tahun 2003 yang hanya 82,5 juta barel per hari,” katanya. Tingginya laju permintaan minyak pada tahun 2005 itu menurut dia disebabkan oleh masih tingginya laju permintaan minyak dari China yang belakangan ini juga diikuti oleh India.

Setelah gebrakan yang mengundang kontroversi, ketika mengakuisisi PT Kaltim Prima Coal, Juli tahun lalu, PT Bumi Resources Tbk yang awalnya bergerak di bidang hotel dan pariwisata, kini terus unjuk kemampuan sebagai produsen batubara utama nasional. Tahun ini, perusahaan publik berkode BUMI itu mencanangkan untuk meningkatkan produksi PT Kaltim Prima Coal (KPC) menjadi 50 juta metrik ton (MT) pada akhir tahun 2007.

Direktur Utama BUMI, Ari S Hudaya mengatakan, peningkatan produksi ini akan dilakukan lewat perluasan program pengeboran menjadi 365 ribu meter pada akhir tahun 2004, dari posisi per Juni 2004 seluas 215 ribu meter atau sebanyak 850 titik lubang bor. Kapasitas pengeboran juga akan terus ditambah, seiring dengan target perluasan areal pengeboran menjadi 432 ribu meter pada tahun 2005. “Hal ini sejalan dengan strategi bisnis BUMI untuk meningkatkan kapasitas produksi batubara dan meningkatkan persediaan cadangan untuk memenuhi permintaan jangka panjang,” ujar Ari.

Kapasitas produksi dan cadangan batubara KPC memang jauh lebih besar dibanding anak perusahaan BUMI, PT Arutmin, yang juga bergerak di sektor yang sama. KPC yang berbasis di Sangatta, Kalimantan Timur memiliki cadangan batubara yang terukur dan terkira sebanyak 2,7 miliar metrik ton. Sebanyak 2,3 miliar MT di antaranya tersebar di Sangatta dan Melawan, sementara sisanya tersebar di wilayah Bengalon.

Dari angka tersebut, KPC memiliki cadangan yang siap dipasarkan sebesar 552 juta MT dari tiga jenis batubara yakni Prima, Pinang dan Melawan. Prima merupakan jenis batubara terbaik dengan nilai kalori yang cukup tinggi sebesar 6.800 kkal/Kg, sedangkan jenis Pinang sebesar 6.200 kkal/Kg. Pada tahun 2003, produksi batu bara dari dari KPC tercatat sebesar 16,2 juta ton, turun dibanding tahun sebelumnya yang sebesar 17,7 juta ton.

Sementara dari tambang PT Arutmin, BUMI memiliki cadangan batubara 1,5 miliar ton yang tersebar di tambang Senakin, Satui dan Ata Mereh. Besar cadangan yang siap dipasarkan pada tahun 2003 sebanyak 359 juta ton dengan tingkat kalori rata-rata 6.700 – 6.800 kkal/Kg. Pada tahun 2003 kapasitas produksi tercatat sebesar 13,7 juta ton, meningkat dari tahun sebelumnya yang sebesar 10,5 juta MT.

Terkait upaya peningkatan produksi KPC menjadi 50 juta MT pada 2007, kata Ari, pihaknya telah menambah alat bor dan membeli alat pengeboran Dando. Sarana itu dilengkapi dengan dua alat pengeboran yang dimiliki kontraktor BUMI. Perusahan juga disebut telah menerapkan sistem aplus baru untuk karyawan, dan diharapakan meningkatkan waktu operasional alat pengeboran hingga 50 persen.

Agar mencapai target itu, kata Ari S. Hudaya, BUMI harus mengerek anggaran program pengeboran dari 1,2 juta dolar AS yang dibelanjakan tahun 2003, menjadi 4,8 juta dolar tahun ini. Dari total anggaran tersebut, sebanyak 1,92 juta dolar sudah disalurkan sampai paruh pertama 2004.

Hingga saat ini baru 40 persen luas wilayah kontrak karya tambang KPC yang telah dieksplorasi. Perluasan pengeboran ini akan meningkatkan keyakinan geologis atas cadangan yang telah diketahui, serta menentukan posisi cadangan tambahan. “Pengeboran tambahan ini diharapkan dapat memetakan deposit batubara yang layak tambang,” ujar Ari S. Hudaya.

Wilayah pengeboran yang sangat prospektif dan dianggap bisa menunjang peningkatan produksi bagi KPC adalah Pinang Utara, Pinang Timur dan Melawan Utara. Menurut Ari, Pinang Utara selama ini memang telah menjadi target eksplorasi, namun sampai saat ini jumlah cadangan teridentifikasinya masih belum bisa diketahui. Wilayah ini juga diperkirakan memiliki kandungan batubara sekelas jenis Prima dan Pinang yang memiliki bobot bahan bakar yang cukup tinggi, antara 6.700 – 7 .100 kkal.

Saat ini dua unit alat pengeboran telah disiapkan di Pinang Utara untuk segera dioperasikan. Sementara pengeboran di wilayah Melawan Utara dijadwalkan akan dimulai pada awal Oktober tahun ini, sedangkan untuk wilayah Pinang Timur akan dimulai awal Desember. Perusahaan pun telah menunjuk tiga kontraktor pertambangan, PT Thiess Indonesia, Henry Walker Etin dan PT Pama Persada. Jumlah armada telah ditingkatkan sesuai dengan jadwal ekspansi.

Seiring perluasan program pengeboran, menurut Ari, produksi KPC tahun ini dipatok 23,5 juta MT, dan akan menjadi 27 juta MT tahun 2005. Sementara dari Arutmin diperkirakan akan mampu dihasilkan 16,5 juta MT pada tahun 2004 dan naik menjadi 18 juta MT pada tahun 2005.

“Untuk tahun 2004 BUMI berada dalam target untuk memproduksi 40 juta ton batubara, sebelum melakukan peningkatan kapasitas lebih jauh lagi selama dua tahun ke depan dan mencapai target produksi total tahunan sebesar 70 juta ton akhir tahun 2007,” ujar Ari optimis.

Produk batubara KPC selama ini sudah menjadi permintaan tetap dari sejumlah perusahaan besar di Jepang dan Taiwan, seperti Chubu Electric Power Co Inc, Tohoku Electric Power Company dan Nippon Steel Ltd. Untuk pasar Jepang dan Taiwan, KPC mengalokasikan 43 persen dari total produksi, dan 20 persen dipasarkan ke Eropa.

Rencana perluasan eksplorasi BUMI, menurut analis dari Evergreen Capital, Edwin Sebayang, mengundang sentimen positif. Alasannya, saat ini permintaan batubara dunia masih cukup tinggi menyusul ditutupnya keran impor oleh Cina untuk waktu tak bisa dipastikan. Permintaan batubara sebagai second option untuk bahan bakar dipastikan akan tetap tinggi, khususnya pada saat Eropa dan daratan Amerika memasuki musim dingin.

“Namun peningkatan pengeboran ini harus didukung oleh cadangan yang ada, itu yang jadi pertanyaan,” ujar Edwin. Ia memperkirakan masih akan terjadi peningkatan permintaan batubara dalam beberapa tahun mendatang sebesar 15-20 persen. Namun ia juga mengingatkan bahwa permintaan dan harga batubara akan kembali terkoreksi jika Eropa dan Amerika kembali memasuki musim panas, dan produksi minyak dunia kembali stabil.

Sementara itu analis pertambangan dari PT Trimegah Securities Tbk, Arianto Reksoprodjo mengatakan, peningkatan eksplorasi BUMI di KPC akan meningkatkan reserves yang tadinya masih terkira menjadi terukur. Sebelumnya, akibat ketidakpastian yang pernah dirasakan di tubuh KPC ketika sahamnya masih dimiliki BP dan Rio Tinto, membuat perusahaan yang memiliki kontribusi 17 persen dari total produksi nasional ini kurang melakukan eksplorasi dan mengembangkan tambang baru.

“Sekarang BUMI sudah firmed bahwa dia akan fokus di batubara, khususnya di KPC. Perusahaan juga sudah menciptakan situasi win win solution, baik bagi perusahaan sendiri maupun bagi pihak lain termasuk Pemda Kaltim dan Pemkab Kutai Timur,” ujar Arianto.

KPC juga disebutkan Arianto memiliki kawasan yang terkenal dengan nama Pinang Dome yang diperkirakan sarat dengan cadangan batubara. Kawasan ini juga disebut ‘Kubah Pinang ‘ setelah fenomena geologis akibat proses tekanan dari panas bumi yang mendorong permukaan bumi mencuat keluar. Proses ini mengakibatkan batubara yang tersebar di areal tersebut menjadi matang dengan cepat, sekaligus membentuk kualitas tinggi atau bituminous coal, dengan nilai kalori yang juga tinggi dan tingkat kelembaban yang rendah.

Kawasan ini diharapkan mampu memproduksi batubara jenis Prima yang diakui kualitasnya secara internasional karena tingkat kalorinya yang tinggi, level abu yang rendah, dan tingkat sulfur yang moderat serta kelembaban rendah. Saat ini KPC baru menggarap dua wilayah di Pinang yakni wilayah barat dan selatan, “Masih ada posisi utara dan timur yang belum digarap sama sekali, dan diasumsikan akan ada peningkatan produksi dua kali lipat di wilayah tersebut,” ujar Arianto.

Indikasi penambahan cadangan dalam bentuk cadangan terkira baru bisa diketahui tahun 2007, dan baru bisa menjadi cadangan terukur pada tahun berikutnya jika sudah berdiri mine plant di lokasi pengeboran. “Masuk ke reserves yang terukur kalau mereka sudah punya mine plant, dan itu mungkin baru bisa terjadi pada tahun 2008,” tuturnya.

Kendati telah tersedia tambang baru seperti di Bengalon dan Melawan Utara, Arianto juga mengatakan perusahaan belum tentu bisa mencapai target 70 juta MT tahun 2007. Bahkan ia memproyeksikan produksi masih berada pada level versi perusahaan.

Kemungkinan kendala yang bakal menghadang BUMI seperti hujan yang tingkatnya melebihi rata-rata, serta keterlambatan masuknya kontraktor tambang-tambang baru karena belum mendapat persetujuan kreditor. Upaya para kontraktor memasukkan peralatan berat ke pedalaman Sangatta lewat pantai juga diperkirakan terganggu akibat iklim di Kalimantan.

Arianto juga memperkirakan target produksi KPC untuk 2005 akan meleset menjadi 25 juta MT dibanding target 27 juta ton, begitu juga tahun 2006 akan meleset menjadi 28,9 juta ton dibanding target 30 juta ton. “Kita lihat mereka terlalu agresif untuk membuka tambang baru pada awal tahun, tapi kenyataannya kan nggak bisa langsung,” tambahnya.

Dirut BUMI, Ari Hudaya membenarkan kemungkinan kendala berupa iklim serta keterlambatan pengiriman alat berat dari pabrik. Namun ia tetap yakin BUMI akan mampu mencapai target 70 juta ton tahun 2007.

Pada tahun 2004 saja, perusahaan dipastikan akan mampu meraup laba bersih 137,7 juta dolar AS, mengingat permintaan dunia masih sangat tinggi, disusul harga pasar yang setidaknya masih akan tinggi selama tiga tahun mendatang.

“Mengenai target laba di tahun 2005 dan 2006 jelas akan meningkat dibandingkan tahun ini, dan kami proyeksikan akan lebih baik karena adanya peningkatan produksi dan tingginya harga jual batubara dunia. Tapi untuk saat ini kami belum dapat mengungkapkan target laba tahun 2005 karena masih dalam tahap perhitungan,” ungkap Ari.

Harga spot untuk batubara jenis Prima yang diproduksi BUMI berkisar antara 60-56 dolar AS per ton. Dari total produksi batubara BUMI sebesar 40 juta MT, sebanyak 3,0 persen atau 1,5 juta MT dialokasikan ke pasar domestik, sementara sisanya sebesar 97 persen atau 38,5 juta MT dialokasikan ke pasar internasional.*

Pada saat pembukaan Konferensi Batubara Asia Mc Closkey’s di Kuala Lumpur, 8 Maret lalu, pemilu di negeri jiran ini tinggal 13 hari lagi. Namun, tidak tampak poster, spanduk maupun pawai kontestan. Suasana tenang di jalanan sangat kontras dengan suasana di Hotel Shangri-la, tempat konferensi berlangsung. Salah satu topik ‘panas’ yang dibahas adalah melesatnya harga batu bara dunia, seperti layaknya balap mobil Formula I yang tak lama lagi diadakan di Sirkuit Syah Alam, Se-pang, tiga jam perjalanan dari Kuala Lumpur.

Perdebatan yang selalu ditunggu selama konferensi, sebesar apa dan seberapa lama harga batu bara akan terus melejit? Dan, sejauh mana pengaruh Cina terhadap pasar batu bara ke depan?

Seluruh pasar batu bara Asia berubah cepat, dan memberikan dampak pada perdagangan batu bara dunia. Kebutuhan batu bara untuk pasar Jepang, Korea dan Taiwan terus meningkat pada saat Cina mengonsentrasikan kebutuhan domestik dan mengurangi ekspornya.

Produksi & pangsa penjualan batu bara Indonesia (juta ton)
2002 2003* 2004*
Produksi 108,7 123,6 135,4 A
sia 61,0 76,0 83,8
Eropa 10,3 10,5 10,5 AS 3,3 3,6 5,0
Ekspor 74,6 90,1 99,3
Domestik 29,0 31,4 32,2
Total penjualan 103,6 121,5 131,5
Sumber: McCloskeyAsian Coal Conference
Ket. * Perkiraan

Ini tentu menjadi catatan tersendiri yang mengembirakan bagi para produsen batu bara di Pasific Rim, apalagi pada saat yang sama produsen Australia sedang mengalami penguatan mata uangnya terhadap US$ secara terus menerus.

Bagi Indonesia, kondisi pasar dunia yang belum pernah terjadi ini harus dimanfaatkan dengan baik. Sampai-sampai salah satu pemilik perusahaan batu bara yang cukup besar di Kalimantan Timur yang secara rutin bermain golf menghentikan olah raga favoritnya itu demi menangguk keuntungan dalam kondisi saperti ini.

Dari tahun ke tahun tingkat produksi dalam negeri terus meningkat. Pada 2003 produksi nasional 123,6 juta ton dan diperkirakan akan meningkat terus di tahun ini sebesar 135,4 juta ton. Tingkat poduksi di atas 150 juta ton dipastikan akan terwujud pada 2006.

Dengan kondisi pasar sekarang dan khususnya pada sisi harga batu bara yang diperkirakan akan bertahan tinggi selama dua tahun ke depan, maka tentunya selama waktu tersebut devisa ekspor batu bara Indonesia akan meningkat tajam sejalan dengan kenaikan produksi batu bara Indonesia.

Terlebih lagi harga batu bara diperkirakan akan masih tetap tinggi. Kondisi ini akan meningkatkan masukan royalti yang relatif cukup besar bagi pemerintah pusat maupun daerah.
Dengan tingkat perkiraan produksi sebesar 135,4 juta ton pada 2004 dan juga perkiraan tingkat ekspor mencapai 99,3 juta ton, Indonesia menjadi eksportir batu bara nomor dua di dunia.

Di pasar domestik pun, akan terjadi peningkatan kebutuhan batu bara sebesar 32,2 juta ton. Peningkatan akan terjadi pada 2007 dengan beroperasinya secara penuh PLTU (pembangkit listrik tenaga uap) Tanjung Jati-B serta kemungkinan besar PLTU Cilacap.

Kondisi pasar

Pada dasarnya pasar batu bara secara ekonomi sudah tersegmenkan. Afrika Selatan dan Kolumbia ke Eropa, Australia dan Indonesia ke Asia dan kawasan Atlantik.

Bagi produsen Indonesia, pertumbuhan kebutuhan batu bara di Asia menjadi sangat penting. Tahun lalu, dari pasar batu bara sebesar 441,3 juta ton, Asia menguasai 244,19 juta ton, dan diperkirakan kebutuhan Asia terus meningkat menjadi 250,89 juta ton.

Saat ini, pasar batu bara Asia menjadi fenomena yang cukup menarik dan unik. Bagi produsen Indonesia, sebelumnya untuk memasuki pasar Asia harus berhadapan dengan produsen dari Australia, Afrika Selatan, Cina, Kolumbia, namun dengan kondisi perubahan yang yang terjadi di Cina sampai dengan saat ini, yang tidak saja mempengaruhi harga batu bara dunia, namun juga kenaikan biaya pengangkutan laut yang lebih dari 200%, maka bagi produsen Afrika Selatan dan Kolumbia, berat bersaing dengan produsen Indonesia.

Fenomena pasar batu bara Asia menjadi unik dengan terciptanya kompetisi antara sesama produsen Indonesia dalam memperebutkan transaksi di pasar Asia.

Sepanjang sejarah perdagangan batu bara, pertama kalinya harga menembus US$50,45 per ton (Barlow Jonker Spot-11 Maret 2004), yang seminggu sebelumnya masih pada US$47,50 per ton. Bahkan, National Power Corp, Filipina (NPC) dengan kondisi stok batu bara di PLTU Masicloc, telah menyetujui pembelian batu bara satu panamax dari Xstrata’s Mount Owen (Australia) seharga US$55 per ton FOB (freight on board) atas dasar nilai kalori 6,300 kcal/kg (ar) untuk pengapalan April atau Mei tahun ini.

Pengapalan dari Newcastle ke Masinloc pun sudah mencapai US$27 per ton, sehingga CFR dapat mencapai US$82 per ton atau harga yang belum pernah terbayangkan saat itu.

Cina melalui National Development and Reform Commission (NDRC) dan Ministry of Commerce (MOC), telah merencanakan pembatasan ekspor batu bara pada 2004.

Dipertegas juga setiap kebijaksanaan dalam menentukan perhitungan kuota ekspor batu bara harus didahului dengan perhitungan pertimbangan keamanan ekonomi, penggunaan sumber daya batu bara yang rasional, rencana industri yang ada serta kondisi pasar batu bara domestik dan ekspor.

Dengan tingkat perkiraan pertumbuhan GDP (gross domestic product) Cina sebesar 7 %, maka tingkat kenaikan kebutuhan listrik akan dapat mencapai 15 %. Dengan kondisi ini, maka untuk dapat memenuhi kebutuhan batu bara di dalam negeri, pembatasan ekspor sebesar 80 juta ton pada 2004 diperkirakan meleset dan jauh dari angka itu, walaupun tingkat produksi batu bara Cina mencapai 1,608 miliar ton pada 2003 atau naik 15 % dari produksi 2002 yang besarnya 1,39 miliar ton.

Juga, dengan kejadian padamnya listrik di 21 provinsi di kuartal ke-4 2003 akibat pasokan batu bara, menjadi pelajaran bagi Cina dalam membuat kebijakan ekspor batu baranya. Dan, tidak seperti di Indonesia yang ma-sing-masing produsen atau trader dapat melakukan ekspor, maka Pemerintah Cina (NDRC) sampai saat ini hanya mengizinkan ekspor kepada China Coal, Shenhua, Shanxi Coal, dan Minmetal.

Melihat kondisi yang ada, diperkirakan harga batu bara tetap akan bertahan tinggi (di atas US$40 per ton) selama dua tahun ke depan. Sedangkan, biaya pengangkutan laut juga diperkirakan akan tetap tinggi karena Cina masih memerlukan banyak armada laut untuk memenuhi kebutuhan impor bijih besi sampai 700 juta ton pada 2007, atau naik 520 juta ton pada 2003, atau 37 % dari perdagangan dunia.

Dengan tingginya harga batu bara di pasar internasional yang diperkirakan masih akan berlangsung panjang, maka hal ini tentu menjadi peluang bagi seluruh produsen batu bara di dalam negeri.

Namun, dengan kebijakan bebas ekspor bagi setiap produsen ataupun trader diharapkan tidak akan mengganggu pasokan kebutuhan batu bara di dalam negeri, khususnya untuk pembangkit-pembangkit besar seperti PLTU Suralaya, PLTU Paiton 1 & 2 , dan PLTU Swasta Paiton I &II.

Harga yang harus dibayar dengan terhentinya pasokan batu bara ke pembangkit-pembangkit tersebut di atas akan menghasilkan multiplier effects yang secara ekonomi ruginya justru lebih besar nilainya dari kenaikan harga batu bara yang di dapat.

Dengan tingginya batu bara di pasaran ekspor dan di sisi lain tidak adanya pengaturan perdagangan batu bara oleh Pemerintah Indonesia terhadap batu bara, PT PLN (PT Indonesia Power dan PT Pembangkitan Jawa Bali) sebagai pembeli dan pemakai terbesar harus melakukan komunikasi intensif secepatnya dan terus menerus dengan produsen agar keamanan jaminan pasokan tidak terganggu, khususnya kondisi menjelang pemilu pada April 2004 sampai dengan terbentuknya pemerintahan baru nantinya.

Akhirnya, apapun segala isi bumi di Indonesia pelu dimanfaatkan secara optimal untuk kesejahteraan rakyat harus tetap menjadi tujuan utama.

Oleh Singgih Widagdo Direktur Masyarakat Batubara Indonesia (MBI)/Manager PT Berau Coal

Produksi batubara Indonesia selama 10 tahun terakhir menunjukkan peningkatan produksi yang signifikan dan pada tahun 2003 telah mencapai 112 juta ton. Diproyeksikan pada tahun 2004 produksi batubara akan meningkat menjadi sebesar 135 juta ton. Dari jumlah produksi tersebut 86% berasal dari kontraktor PKP2B (Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara) generasi I-III, sementara PTBA (PT Tambang Batubara Bukit Asam Persero) memproduksi kurang dari 10% dari total produksi tersebut dan sisanya diproduksi oleh perusahaan pemegang KP dan KUD.

Sebagian besar dari produksi tersebut (67,5%) digunakan untuk memenuhi kebutuhan ekspor ke berbagai negara terutama di kawasan Asia Pasifik, seperti Jepang Taiwan , Korea dan negara-negara ASEAN. Sisanya sebesar 31 juta ton (32,5%) digunakan untuk keperluan di dalam negeri antara lain untuk pembangkit listrik, pabrik semen, industri pulp, dan lainnya.. Kontribusi batubara di dalam energy mix saat ini masih sangat terbatas, yaitu baru sekitar 13% dari total pemakaian energi dalam negeri, dimana pemakaian terbesar masih didominasi oleh industri ketenagalistrikan (PLTU) yang mencapai 20 juta ton, diikuti oleh industri semen sebesar 4,2 juta ton, dan industri lainnya sebesar 1,1juta ton.

Pertumbuhan konsumsi batubara Indonesia rata-rata meningkat sebesar 9% per tahun , dan diharapkan akan semakin meningkat dengan naiknya kontribusi batubara di dalam energy mix untuk mengurangi ketergantungan akan BBM yang saat ini cadangannya semakin menipis serta untuk optimalisasi pendapatan negara dari migas bagi kelangsungan pembangunan. Namun, pengembangan pemanfaatan batubara dalam negeri masih terkendala dengan keterbatasan infrastruktur pendukung terutama dalam hal transportasi dan distribusi. Disamping itu, harga jual batubara dalam negeri yang lebih rendah dibandingkan harga di pasar internasional menyebabkan produsen batubara lebih menyukai pasar luar negeri dibandingkan pasar dalam negeri.

Oleh karena itu, guna menjamin ketersediaan batubara untuk keperluan domestik, maka Pemerintah perlu mengatur keamanan suplai karena dapat berdampak kepada terganggunya kegiatan sektor lainnya terutama pasokan batuibara untuk pembangkit listrik. Dalam beberapa bulan terakhir ini harga batubara di pasar internasional meningkat cukup tajam (mencapai US$ 50 untuk pasar spot). Tingginya harga ini terkait dengan naiknya konsumsi batubara pada hampir semua negara konsumen terutama Cina dan dampak dari tingginya harga minyak di pasar internasional (sejak terjadinya perang di Irak) sehingga banyak industri yang beralih dari minyak kepada gas dan batubara..

Namun, Indonesia tidak dapat memanfaatkan momentum ini walaupun dari sisi cadangan hal ini sangat dimungkinkan tetapi dari sisi produksi terkendala karena sejak lima tahun terakhir tidak ada investasi untuk pembangunan tambang baru akibat berbagai permasalahan internal seperti keamanan, sistim perpajakan, tumpang tindih penggunaan lahan, dan isu-isu lainnya Berbagai upaya telah dilakukan Pemerintah untuk menyelesaikan hal ini tetapi belum memberikan kemajuan yang berarti. Dampak dari semua persoalan di atas tidak hanya akan mengurangi daya saing Indonesia di pasar internasional, namun yang lebih serius lagi adalah terganggunya stabilitas suplai untuk keperluan dalam negeri. Untuk itu diperlukan kepaduan kebijakan dari seluruh sektor terkait serta pembenahan fasilitas infrastruktur pendukung yang memungkinkan industri ini bekerja pada kapasitas optimalnya, baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun untuk memanfaatkan peluang ekspor.

INDONESIA termasuk negara dengan sumber tambang batu bara terbesar di dunia. Cadangannya diperkirakan 36,3 milyar ton. Hanya saja 50-85 persennya berkualitas rendah. Ini dilihat dari nilai kalori pembakarannya yang rendah, dan kadar sulfur serta airnya yang tergolong tinggi. Karena itu, batu bara muda yang disebut juga batu bara lignit atau batu bara cokelat tidak ekonomis dimanfaatkan sebagai bahan bakar.Bila sumber energi ini dibawa ke lokasi yang jauh dari areal tambang, maka biaya transportasinya menjadi mahal. Karena ongkos angkut itu sebenarnya dikeluarkan untuk membawa air dan abu yang nantinya harus dibuang dalam proses pemanfaatan batu bara.

Ketika dibakar, banyak energi yang terbuang untuk menguapkan air, sedangkan nilai kalori yang diperoleh relatif rendah. Selain itu, kandungan sulfur yang tinggi akan menjadi gas pencemar. Karenanya diperlukan biaya tambahan untuk mengurangi emisi gas sulfur.

Dengan adanya masalah tersebut, bila terdapat lapisan batu bara lignit dalam penambangan batu bara, maka penambang hanya mengambil lapisan yang berkualitas tinggi. Sedangkan batu bara lignit akan disingkirkan atau ditimbun kembali di lokasi tambang.

Pemanfaatan lignit

Belakangan ini, dengan dihapusnya subsidi BBM (bahan bakar minyak) yang melambungkan harga BBM di Indonesia, batu bara mulai dilirik. Dalam perhitungan Firdaus Akmal, Dirut PT Indonesia Power, bahan bakar ini lebih murah dibandingkan BBM. Bila menggunakan solar atau Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), harga listrik mencapai Rp 500 per kWh. Dengan batu bara, biaya pembangkitan hanya sekitar Rp 50 per kWH. Dengan demikan akan menghemat biaya kurang lebih Rp 30 milyar per tahun.

Namun, untuk menggunakan batu bara-dalam hal ini batu bara muda sebagai bahan bakar pembangkit-perlu ada pendekatan khusus, masalahnya karena ada faktor kendala, yaitu kandungan air dan sulfur yang tinggi.

Solusi yang diambil adalah membangun instalasi pembangkit dekat daerah pertambangan batu bara, sehingga biaya transportasi minimal. Selain itu juga dikembangkan teknis proses pembakaran batu bara muda yang dapat mereduksi gas sulfur ke udara sehingga pencemaran gas ini pun dapat ditekan.

Pemanfaatan lignit ini sebagai bahan bakar pembangkit listrik di mulut tambang, sebenarnya pernah dirintis pada tahun 1997 oleh BPPT beker ja sama dengan HRL (Herman Research Laboratory) Technology Pty Ltd Australia, PT Bukit Asam, Departemen Pertambangan dan Energi, serta PT PLN. Namun menurut penjelasan Bambang Gambiro, Direktur Teknologi Pengembangan Sumber Daya Energi BPPT, kepada Kompas akhir Juli lalu, proyek itu terhenti pada tahun 1998 karena krisis ekonomi.

Padahal menurut rencana akan dilakukan uji coba penggunaan batu bara muda dari Tanjung Enim Sumatera Selatan dan beberapa tempat di Indonesia, menggunakan sistem proses IDGCC (Integrated Drying Gasification Combine Cycle). Pengembangan teknologi IDGCC ini sendiri di Australia, telah dimulai sejak tahun 1990.

Dasar prosesnya pada pengeringan dan gasifikasi batu bara untuk digunakan pada turbin gas siklus ganda. Karena menggunakan siklus pembakaran ganda, efisiensi konversi energi dengan teknologi IDGCC dapat dinaikkan dari 29 persen menjadi 42 persen. Hasil penelitian dan evaluasi ekonominya menunjukkan, teknologi itu layak dan ekonomis.

Pembangkit listrik 10 MW yang menggunakan sistem IDGCC di Morwell Victoria mampu memproses 240 ton batu bara muda per hari. Riset yang dilakukan HRL antara lain bertujuan mengurangi biaya pembangkitan dan emisi gas CO2 yang dikeluarkan pembangkit listrik batu bara muda.

PLTU Berau

Upaya pemanfaatan batu bara mulai dirintis lagi tahun 2002. Kali ini akan dicoba menggunakan batu bara muda di Berau, Kalimantan Timur. Peletakan batu pertama pembangunan PLTU Mulut Tambang ini telah dilakukan Menristek Hatta Rajasa, Bupati Berau H Masdjuni, Dirut PT Berau Coal Jeffry Mulyono, dan Dirut PT Indonesia Power Firdaus Akmal, pada akhir Juli.

Seperti dikemukakan Masdjuni, upaya pemenuhan kebutuhan listrik bagi masyarakat daerah ini telah diprogram cukup lama oleh Pemda Kabupaten Berau. Selama ini energi listrik yang dipasok PT PLN (Persero) Ranting Tanjung Redep menggunakan PLTD telah maksimal memenuhi kebutuhan masyarakat setempat.

Ini terlihat dari daya pembangkitan yang mampu dihasilkan PLTD sekitar 5,6 MW sedangkan beban puncaknya telah mencapai 5,4 MW. “Akibatnya, PLN terpaksa melakukan pemadaman secara bergilir bila terjadi kerusakan mesin,” ungkapnya. Sementara itu, permintaan penyambungan listrik sebesar 9,6 juta kWh namun yang terpenuhi baru 7,9 juta kWh. Masih kurang sekitar 1,6 juta kWh.

Jeffry mengatakan, PLTU Berau merupakan upaya pemanfaatan potensi batu bara muda yang melimpah dan mengurangi pemakaian solar. Dengan demikian juga akan menggantikan fungsi diesel yang biaya operasinya mahal. Proyek ini juga sebagai pilot project bagi daerah lainnya yang kaya dengan batu bara kalori rendah.

Tambang batu bara PT Berau Coal saat ini menggunakan daya sebesar 3,3 MW dengan produksi batu bara sekitar 6 juta ton per tahun. Sekarang ini kebutuhan daya listrik PT Berau Coal dipasok sendiri dari PLTD milik PT Berau Coal dengan bahan bakar solar.

Dikemukakan Firdaus, selain Berau beberapa kabupaten di Kalimantan Timur telah menandatangani MoU untuk pembangunan fasilitas yang sama yaitu dengan Sangata, Malinau, dan Tanjung Redeb. Sedangkan Kabupaten Pasir juga telah menyatakan keinginannya.

PLTU Mulut Tambang ini lokasinya berada di Desa Sambakungan, Kecamatan Gunung Tabur yang dikenal dengan nama daerah Lati itu dibangun atas kerja sama antara PT Indonesia Power, Pemda Kabupaten Berau, PT Berau Coal, dan BPPT. Proyek ini rencananya akan selesai pembangunannya pada bulan Agustus-September 2003, dan beroperasi secara komersial pada akhir tahun 2003.

PLTU berkapasitas 2×6 MW tersebut, jelas Kepala Unit Pelaksana Teknis Laboratorium Sumber Daya Energi BPPT Agus Rusjana Hoetman, – yang mendesain pabrik tersebut – menggunakan sistem modul sehingga pembangunannya bisa menghemat biaya sekitar 30 persen. Biaya pembangunannya sekitar 10,5 juta dollar AS.

Instalasi pembangkit ini terdiri dari dua boiler stoker yang mampu membakar batu bara buangan dari berbagai peringkat tanpa menimbulkan masalah dalam pencapaian efisiensi dan memenuhi persyaratan lingkungan.

Desulfurisasi

Meskipun menggunakan batu bara dengan kandungan sulfur tinggi sekitar 1.7 – 3 persen, namun pembangkit listrik ini dilengkapi dengan peralatan desulfurisasi sehingga diharapkan kadar SO2 yang dihasilkan tidak lebih dari 750 ppm sesuai dengan baku mutu lingkungan hidup. Demikian juga dengan efek pencemaran lainnya.

Instalasi PLTU pengoperasiannya dengan kendali jarak jauh dari ruang kontrol menggunakan sistem kontrol berbasis microprocessor. Sedang penyaluran kepada masyarakat dilakukan dengan menggunakan sistem pendistribusian yang sudah ada, yaitu distribusi 20 kV, mengikuti jalur substation Lati ke substation Sambaliung yang melewati area di sekitar proyek.

Bahan baku batu bara akan diangkut dari tambang Lati yang dimiliki PT Berau Coal dengan menggunakan dump truk dari area penumpukan batu bara buangan (reject) di tambang Lati ke PLTU yang berjarak sekitar 2 kilometer. Luas areal tambang batu bara di Berau seluas 15.600 hektar, yang berada di Binungen, Lati, Punan, dan Kelai. Di Lati sendiri kawasan penambangannya seluas 6.984 hektar.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.