sumber: http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=193264&kat_id=4
JAKARTA–Butuh payung hukum yang kuat dan dukungan dari presiden. emerintah berencana menggunakan batubara cair untuk mengurangi beban penggunaan bahan bakar minyak (BBM) yang semakin meningkat. “Kita harus mengurangi konsumsi Bahan bakar Minyak, salah satunya adalah bagaimana batubara bisa kita cairkan kemudian kita jadikan BBM dimana nantinya bisa menggantikan pemakaian BBM,” kata Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro seusai bertemu wapres Jusuf Kalla di Jakarta, Senin.
Menurut Purnomo untuk itu, ia membutuhkan payung hukum yang kuat dan kebijakan secara nasional oleh Presiden Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla. Namun ketika ditanyakan payung hukum seperti apa yang diinginkannya, Purnomo belum bisa menjawab karena ia harus mempresentasikan hal ini kepada Presiden Yudhoyono setelah kunjungan ke luar negeri.
“Yang jelas hal itu perlu dukungan dari Presiden Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk keluarkan kebijakan untuk menggantikan BBM ini,” kata Purnomo.
Menurut rencana produksi batubara cair tersebut akan dilakukan di Sumatra Selatan karena memiliki cadangan batubara yang sangat besar. Saat ini cadangan batubara Indonesia sangat besar masih sekitar 70 tahun. Untuk itu bisa digunakan sebagai pengganti BBM yang untuk kebutuhan nasional saat ini mencapai 85,6 juta kilo liter per tahun. Penggunaan batubara cair, tambah Purnomo, saat ini juga telah dilakukan di Afrika Selatan.
Sementara itu menanggapi peran OPEC akibat harga minyak dunia yang terus meningkat, Purnomo mengatakan OPEC tidak bisa lagi lakukan kontrol atas harga minyak dunia.
OPEC, tambahnya saat ini hanya memiliki pangsa pasar minyak dunia sebesar 40 persen. “OPEC tidak bisa berdaya dengan penjualan minyak yang tak bisa dikontrol,” katanya. Meskipun, tambahnya saat ini OPEC telah berusaha untuk menaikan produksinya hingga 500 ribu barel. Sejauh ini, tambahnya pemerintah Indonesia setuju dengan segala usaha apapun juga untuk menurunkan harga minyak dunia.
Seiring dengan meningkatnya permintaan dan ketatnya produksi minyak dunia, harga minyak di pasar dunia pada triwulan keempat tahun 2005 menurut perkiraan pengamat perminyakan, Dr Kurtubi, bisa mencapai 60 dolar AS per barel.
“Sekarang kita sudah masuk ke triwulan kedua tetapi harga minyak masih bertahan pada 55 dolar AS. Saya khawatir kalau selama triwulan ini harga tetap bertahan pada kisaran itu, harga minyak pada triwulan ketiga dan keempat akan jauh melebihi perkiraan saya,” katanya kemarin.
Jika pada triwulan kedua tahun 2005 harga minyak dunia masih berkisar 55 dolar per barel maka, menurut dia, Indonesia dan dunia harus bersiap-siap menerima kenyataan melambungnya harga minyak West Texas Intermediate/WTI (yang menjadi acuan perdagangan minyak mentah dunia-red) selama tahun
2005-2006 akan mencapai 60 dolar per barel.
Biasanya, kata dia, berdasarkan perilaku permintaan minyak di pasar dunia, pada triwulan kedua harga minyak akan tertekan sehingga menjadi lebih rendah dibandingkan dengan harga minyak pada triwulan sebelumnya meskipun tidak akan lebih rendah dari 40 dolar per barel (batas bawah patokan harga minyak OPEC).
Namun hingga memasuki masa-masa awal triwulan kedua tahun 2005 harga minyak di pasaran dunia sama sekali tidak mengalami penurunan. “Hal ini terjadi karena faktor fundamental dimana permintaan minyak dunia sangat tinggi tahun 2005. Saya perkirakan jumlahnya mencapai 84 juta barel per hari atau sekitar
2 juta barel lebih banyak dibandingkan permintaan minyak tahun 2003 yang hanya 82,5 juta barel per hari,” katanya. Tingginya laju permintaan minyak pada tahun 2005 itu menurut dia disebabkan oleh masih tingginya laju permintaan minyak dari China yang belakangan ini juga diikuti oleh India.
18 Oktober 2006 pukul 9:23 am
mas tolong dong saya lagi di suruh dosen bwt bikin tulisan ilmiah tentang batubara.
terimakasih
22 November 2006 pukul 9:21 am
mas,saya mau buat rancangan pabrik mengenai pencairan batubara.tolong info tentang teknologi pencairan BB yang layak di Indonesia,BCL,Nedol atau HTI?
terimakasih
28 November 2006 pukul 6:53 am
mas tolong dunk! kirimin saya jurnal or makalah mengenai macam2 pemnfaatan batubara…..
secepatnya lho maSS!!1
ak tunggu yups….
4 Desember 2006 pukul 6:26 am
Hallo mas, salam kenal.
Saya sekarang kerja di bidang pelayaran khususnya
offshore jadi tahu sedikit tt platform dll, namun untuk melebarkan sayap saya ingin mengenal lebih jauh tt BATU BARA kelihatannya prospeknya bagus baik dari hulu sampai hilir.
Tolong saya mau bisnis untuk ke pemakai akhir/industri, hal-hal apa yg perlu kami persiapkan.
Tks,
Hardy
21 Desember 2006 pukul 3:13 am
Dengan hormat,
Pertama-tama kami mengenalkan diri, kami karyawan PT Krakatau Steel, yang bekerja di bidang RISTEK, dan saat ini Perusahaan kami sedang melakukan Riset tentang batubara cair yang nanitinya akan dipakai sebagai substitusi bahan bakar minyak, untuk itu kami setelah membaca artikel-artikel tentang penggunaan batubara oleh Bpk Fariz Tirasonjaya yang diantaranya menginformasikan pemakaian coal water fuel pada steam boiler di industri tektil. Untuk itu mohon informasi apakah kami bisa mendapatkan informasi lebih lanjut atau kami melihat langsung ke lokasi/industri tsb.
Demikian, atas informasinya diucapkan terima kasih
Muradi Suwargino
Subdit Ristek PT Krakatau Steel
30 Januari 2007 pukul 10:40 am
Perkenalkan saya mahasiswa teknik konversi energi POLBAN. saya tertark mengenai batu bara cair, karena proses pencampuran batu bara yang telah di haluskan dan air serta bahan pencampur (bahan kimia, saya lupa sebutannya) menarik. Kalau industri di indonesia sudah ada yang menggunakan batu bara cair belum? terus bahan kimia yang bagus untuk proses pencampuran itu apa yah?
Thank’s
hangga
6 Februari 2007 pukul 7:56 am
Dengan hormat,
Saya bermaksud menanggapi email dari (maaf Bp atau Ibu?)Lusi, Bp. Hardy dan Bp. Muradi Suwargino.
Saya menginformasikan bahwa di tahun 2007 ini, kami dari Sugico Mok Energy, akan mulai membangun instalasi pencairan batubara di Sumatera Selatan. Pembangunan ini akan mulai berproduksi pada tahun 2010 dengan kapasitas 40,000 barel/day. Kapasitas ini selanjutnya akan kami naikkan menjadi 100,000 barel/day.
Teknologi yang kami gunakan adalah dari Mok Companies, USA yang mampu menghasilkan batubara cair dengan proses yang ramah lingkungan yaitu menggunakan reaktor Bergius dan bukan Fischer Tropsch yang menghasilkan begitu banyak CO2.
Selain itu biaya produksi kami juga akan lebih murah karena menggunakan inovasi panel surya yang kami sebut Photovoltaic. Panel ini mampu melipatgandakan intensitas cahaya yang diterima menjadi 100x lipat.
Lokasi Indonesia yang berada di katulistiwa menjadi aset penting bagi kami.
Kami pernah dimuat di Majalah Trust (Agustus 2006) di Edisi SBY.
Salam,
Achyar Najib
Sugico Mok Enery, PT
10 Maret 2007 pukul 3:42 am
mas.katanya pilot plant batu bara cair ada di cirebon ya?apakah kami bisa melihatnya kesana soalnya saya sendiri orang cirebon tapi saya kok gak tau kalo di cirebon ada batu bara.kalo saya mau lihat ke lokasi seperti apa pilot plant nya dan proses nya seperti apa,lalu saya harus menghubungi siapa?apakah masyarakat bisa melihat proses nya seperti apa?ini khan nantinya buat kepentingan masyarakat juga khan?
30 Maret 2007 pukul 12:19 pm
untuk menambah ilmu mengenai proses pencairan batubara. jika berkenan untuk membagi imformasi mengenai tahap-tahap pencairan batubara, serta alat apa yang digunakan.dan juga bagaimana proses terjadinya batubara cair. dapat dikirim ke email: patarn123@yahoo.com
4 April 2007 pukul 4:48 pm
mas boleh minta informasi tentang batubara cair serta pengolahannya(tahap2,alat bahan)jika berkenan tolong kirim ke bayoesen@yahoo.co.uk
terima kasih sebelumnya
11 April 2007 pukul 3:09 pm
saya mahasiswa pertambangan semester3, saya mau menayakan macam-macam metode penambagan tambang bawah tanah….
24 April 2007 pukul 3:26 pm
mas bisa minta tolong dikirimi tentang metode pencairan batubara dan analisanya.
12 Agustus 2007 pukul 5:27 am
mas apa sudah ada pabrik pengolahan batu bara menjadi bahan bakar cair? di KALTIM ada ngak…!
28 Agustus 2007 pukul 6:17 am
salam kenal mas……………..
saya adhie, mahasiswa teknik kimia, Saya mau mrancang pabrik pencairan batubara. Mohon bantunnya mas, tentang proses pencairan batu bara secara detail termasuk alat-alatnya.kalau mas berkenan tolong kirim ke adhie_yaa@yahoo.com
makasih sebelumnya mas…….
9 Desember 2007 pukul 12:16 am
saya hendrik, saya mau tahu cara process dan pembuatan batubara menjadi gas untuk pembakaran secara detail dan alat alatnya. Terima kasih atas balasan dan bantuannya.
25 Oktober 2008 pukul 12:56 pm
Salam kenal Mas/Pak… Saya sedang bekerja di Tambang Batubara Rakyat di Sawah Lunto Sum – Bar, saya berniat mempresentasikan Batu Bara Cair kepada Bos saya. Mohon bantuannya mas, tentang Proses, peralatan, bahan serta prospek penjualan batubara… Trims sebelumnya…
22 Januari 2009 pukul 7:31 am
salam kenal y….
pak saya mao tanya bagaimana siklus transaksi (sistem informasinya)batu bara cair ini? jika berkenan tolong email ke noe_uniqe @yahoo.com trimakasih atas informasinya
1 September 2009 pukul 2:03 pm
Coal Water Mixed ( CWM ) atau Batubara Rair
Technology ini berasal dari Swedia , dan kini sudah dikembangkan di China sejak tahun 2005 .
CWM membutuhkan batubara yang kalorinya rendah , bahkan yang tak laku dijual karena kadar As , Sulfur dan Moisture tinggi .
CWM dapat menggantikan Residu atau Minyak Bakar atau FFO ex Pertamina yang harganya Rp 3.600,-/lt
CWM dengan bahan batubara yang harus dibeli dng harga US $ 40 / ton harga pokoknya hanya Rp1.500,
perliter . Karena bahannya 70% batubara , 30% air
ditambah edditive 1 % .
CWM sangat cocok dibuat dimulut tambang batubara
yang kalorinya sekitar 5.000 cal dan sulit dijual
jadi harga pokoknya dapat lebih murah .
CWM akan dibeli oleh semua kalangan industri yang
saat ini menggunakan Minyak Bakar / Residu / FFO.
Total investasinya sekitar Rp 50 milyar untuk kap
asitas 250.000 ton / tahun . Dengan technology da
ri China .
Demikian tentang Batubara Cair .
Produk lain dari Batubara antara lain : Gas dari
bahan batubara , seperti Gas Kota tempo doeloe di
Jakarta , Bogor , Surabaya .
Coal Bed Metan ( CBM ) . CBM diambil dari lokasi
tambang batubara muda ( Brown Coal ) yang banyak
terdapat di Musi Banyuasin , Musirawas Sumatra Se
latan . CBM pernah dibuatkan Veasible Study oleh
LEMIGAS dengan dana dari ADB sebesar US $ 50 juta
namun hingga kini proyek itu belum ada kelanjutan
nya meski pihak Sinopec China sudah bersedia ber-
investasi disana . Terakhir terdengan kabar CBM
itu akan dikerjakan oleh Medco .
Wassalam.
Handojo Kuncara
29 September 2009 pukul 9:06 am
Dengan hormat,
Pertama-tama kami mengenalkan diri, kami mahasiswa its jurusan kimia.Mohon perhatiaanya,Pak kami mau tanya informasi alat pencairan batubara secara laboratorium.Kami mohon bantuannya ya pak, bisa dikirimkan ke han_1k@yahoo.co.id