Harga Batubara Diduga Tetap Tinggi
24 Maret 2004
Pada saat pembukaan Konferensi Batubara Asia Mc Closkey’s di Kuala Lumpur, 8 Maret lalu, pemilu di negeri jiran ini tinggal 13 hari lagi. Namun, tidak tampak poster, spanduk maupun pawai kontestan. Suasana tenang di jalanan sangat kontras dengan suasana di Hotel Shangri-la, tempat konferensi berlangsung. Salah satu topik ‘panas’ yang dibahas adalah melesatnya harga batu bara dunia, seperti layaknya balap mobil Formula I yang tak lama lagi diadakan di Sirkuit Syah Alam, Se-pang, tiga jam perjalanan dari Kuala Lumpur.
Perdebatan yang selalu ditunggu selama konferensi, sebesar apa dan seberapa lama harga batu bara akan terus melejit? Dan, sejauh mana pengaruh Cina terhadap pasar batu bara ke depan?
Seluruh pasar batu bara Asia berubah cepat, dan memberikan dampak pada perdagangan batu bara dunia. Kebutuhan batu bara untuk pasar Jepang, Korea dan Taiwan terus meningkat pada saat Cina mengonsentrasikan kebutuhan domestik dan mengurangi ekspornya.
Produksi & pangsa penjualan batu bara Indonesia (juta ton)
2002 2003* 2004*
Produksi 108,7 123,6 135,4 A
sia 61,0 76,0 83,8
Eropa 10,3 10,5 10,5 AS 3,3 3,6 5,0
Ekspor 74,6 90,1 99,3
Domestik 29,0 31,4 32,2
Total penjualan 103,6 121,5 131,5
Sumber: McCloskeyAsian Coal Conference
Ket. * Perkiraan
Ini tentu menjadi catatan tersendiri yang mengembirakan bagi para produsen batu bara di Pasific Rim, apalagi pada saat yang sama produsen Australia sedang mengalami penguatan mata uangnya terhadap US$ secara terus menerus.
Bagi Indonesia, kondisi pasar dunia yang belum pernah terjadi ini harus dimanfaatkan dengan baik. Sampai-sampai salah satu pemilik perusahaan batu bara yang cukup besar di Kalimantan Timur yang secara rutin bermain golf menghentikan olah raga favoritnya itu demi menangguk keuntungan dalam kondisi saperti ini.
Dari tahun ke tahun tingkat produksi dalam negeri terus meningkat. Pada 2003 produksi nasional 123,6 juta ton dan diperkirakan akan meningkat terus di tahun ini sebesar 135,4 juta ton. Tingkat poduksi di atas 150 juta ton dipastikan akan terwujud pada 2006.
Dengan kondisi pasar sekarang dan khususnya pada sisi harga batu bara yang diperkirakan akan bertahan tinggi selama dua tahun ke depan, maka tentunya selama waktu tersebut devisa ekspor batu bara Indonesia akan meningkat tajam sejalan dengan kenaikan produksi batu bara Indonesia.
Terlebih lagi harga batu bara diperkirakan akan masih tetap tinggi. Kondisi ini akan meningkatkan masukan royalti yang relatif cukup besar bagi pemerintah pusat maupun daerah.
Dengan tingkat perkiraan produksi sebesar 135,4 juta ton pada 2004 dan juga perkiraan tingkat ekspor mencapai 99,3 juta ton, Indonesia menjadi eksportir batu bara nomor dua di dunia.
Di pasar domestik pun, akan terjadi peningkatan kebutuhan batu bara sebesar 32,2 juta ton. Peningkatan akan terjadi pada 2007 dengan beroperasinya secara penuh PLTU (pembangkit listrik tenaga uap) Tanjung Jati-B serta kemungkinan besar PLTU Cilacap.
Kondisi pasar
Pada dasarnya pasar batu bara secara ekonomi sudah tersegmenkan. Afrika Selatan dan Kolumbia ke Eropa, Australia dan Indonesia ke Asia dan kawasan Atlantik.
Bagi produsen Indonesia, pertumbuhan kebutuhan batu bara di Asia menjadi sangat penting. Tahun lalu, dari pasar batu bara sebesar 441,3 juta ton, Asia menguasai 244,19 juta ton, dan diperkirakan kebutuhan Asia terus meningkat menjadi 250,89 juta ton.
Saat ini, pasar batu bara Asia menjadi fenomena yang cukup menarik dan unik. Bagi produsen Indonesia, sebelumnya untuk memasuki pasar Asia harus berhadapan dengan produsen dari Australia, Afrika Selatan, Cina, Kolumbia, namun dengan kondisi perubahan yang yang terjadi di Cina sampai dengan saat ini, yang tidak saja mempengaruhi harga batu bara dunia, namun juga kenaikan biaya pengangkutan laut yang lebih dari 200%, maka bagi produsen Afrika Selatan dan Kolumbia, berat bersaing dengan produsen Indonesia.
Fenomena pasar batu bara Asia menjadi unik dengan terciptanya kompetisi antara sesama produsen Indonesia dalam memperebutkan transaksi di pasar Asia.
Sepanjang sejarah perdagangan batu bara, pertama kalinya harga menembus US$50,45 per ton (Barlow Jonker Spot-11 Maret 2004), yang seminggu sebelumnya masih pada US$47,50 per ton. Bahkan, National Power Corp, Filipina (NPC) dengan kondisi stok batu bara di PLTU Masicloc, telah menyetujui pembelian batu bara satu panamax dari Xstrata’s Mount Owen (Australia) seharga US$55 per ton FOB (freight on board) atas dasar nilai kalori 6,300 kcal/kg (ar) untuk pengapalan April atau Mei tahun ini.
Pengapalan dari Newcastle ke Masinloc pun sudah mencapai US$27 per ton, sehingga CFR dapat mencapai US$82 per ton atau harga yang belum pernah terbayangkan saat itu.
Cina melalui National Development and Reform Commission (NDRC) dan Ministry of Commerce (MOC), telah merencanakan pembatasan ekspor batu bara pada 2004.
Dipertegas juga setiap kebijaksanaan dalam menentukan perhitungan kuota ekspor batu bara harus didahului dengan perhitungan pertimbangan keamanan ekonomi, penggunaan sumber daya batu bara yang rasional, rencana industri yang ada serta kondisi pasar batu bara domestik dan ekspor.
Dengan tingkat perkiraan pertumbuhan GDP (gross domestic product) Cina sebesar 7 %, maka tingkat kenaikan kebutuhan listrik akan dapat mencapai 15 %. Dengan kondisi ini, maka untuk dapat memenuhi kebutuhan batu bara di dalam negeri, pembatasan ekspor sebesar 80 juta ton pada 2004 diperkirakan meleset dan jauh dari angka itu, walaupun tingkat produksi batu bara Cina mencapai 1,608 miliar ton pada 2003 atau naik 15 % dari produksi 2002 yang besarnya 1,39 miliar ton.
Juga, dengan kejadian padamnya listrik di 21 provinsi di kuartal ke-4 2003 akibat pasokan batu bara, menjadi pelajaran bagi Cina dalam membuat kebijakan ekspor batu baranya. Dan, tidak seperti di Indonesia yang ma-sing-masing produsen atau trader dapat melakukan ekspor, maka Pemerintah Cina (NDRC) sampai saat ini hanya mengizinkan ekspor kepada China Coal, Shenhua, Shanxi Coal, dan Minmetal.
Melihat kondisi yang ada, diperkirakan harga batu bara tetap akan bertahan tinggi (di atas US$40 per ton) selama dua tahun ke depan. Sedangkan, biaya pengangkutan laut juga diperkirakan akan tetap tinggi karena Cina masih memerlukan banyak armada laut untuk memenuhi kebutuhan impor bijih besi sampai 700 juta ton pada 2007, atau naik 520 juta ton pada 2003, atau 37 % dari perdagangan dunia.
Dengan tingginya harga batu bara di pasar internasional yang diperkirakan masih akan berlangsung panjang, maka hal ini tentu menjadi peluang bagi seluruh produsen batu bara di dalam negeri.
Namun, dengan kebijakan bebas ekspor bagi setiap produsen ataupun trader diharapkan tidak akan mengganggu pasokan kebutuhan batu bara di dalam negeri, khususnya untuk pembangkit-pembangkit besar seperti PLTU Suralaya, PLTU Paiton 1 & 2 , dan PLTU Swasta Paiton I &II.
Harga yang harus dibayar dengan terhentinya pasokan batu bara ke pembangkit-pembangkit tersebut di atas akan menghasilkan multiplier effects yang secara ekonomi ruginya justru lebih besar nilainya dari kenaikan harga batu bara yang di dapat.
Dengan tingginya batu bara di pasaran ekspor dan di sisi lain tidak adanya pengaturan perdagangan batu bara oleh Pemerintah Indonesia terhadap batu bara, PT PLN (PT Indonesia Power dan PT Pembangkitan Jawa Bali) sebagai pembeli dan pemakai terbesar harus melakukan komunikasi intensif secepatnya dan terus menerus dengan produsen agar keamanan jaminan pasokan tidak terganggu, khususnya kondisi menjelang pemilu pada April 2004 sampai dengan terbentuknya pemerintahan baru nantinya.
Akhirnya, apapun segala isi bumi di Indonesia pelu dimanfaatkan secara optimal untuk kesejahteraan rakyat harus tetap menjadi tujuan utama.
Oleh Singgih Widagdo Direktur Masyarakat Batubara Indonesia (MBI)/Manager PT Berau Coal
Batubara Indonesia : Peluang dan Tantangannya
23 Maret 2004
Produksi batubara Indonesia selama 10 tahun terakhir menunjukkan peningkatan produksi yang signifikan dan pada tahun 2003 telah mencapai 112 juta ton. Diproyeksikan pada tahun 2004 produksi batubara akan meningkat menjadi sebesar 135 juta ton. Dari jumlah produksi tersebut 86% berasal dari kontraktor PKP2B (Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara) generasi I-III, sementara PTBA (PT Tambang Batubara Bukit Asam Persero) memproduksi kurang dari 10% dari total produksi tersebut dan sisanya diproduksi oleh perusahaan pemegang KP dan KUD.
Sebagian besar dari produksi tersebut (67,5%) digunakan untuk memenuhi kebutuhan ekspor ke berbagai negara terutama di kawasan Asia Pasifik, seperti Jepang Taiwan , Korea dan negara-negara ASEAN. Sisanya sebesar 31 juta ton (32,5%) digunakan untuk keperluan di dalam negeri antara lain untuk pembangkit listrik, pabrik semen, industri pulp, dan lainnya.. Kontribusi batubara di dalam energy mix saat ini masih sangat terbatas, yaitu baru sekitar 13% dari total pemakaian energi dalam negeri, dimana pemakaian terbesar masih didominasi oleh industri ketenagalistrikan (PLTU) yang mencapai 20 juta ton, diikuti oleh industri semen sebesar 4,2 juta ton, dan industri lainnya sebesar 1,1juta ton.
Pertumbuhan konsumsi batubara Indonesia rata-rata meningkat sebesar 9% per tahun , dan diharapkan akan semakin meningkat dengan naiknya kontribusi batubara di dalam energy mix untuk mengurangi ketergantungan akan BBM yang saat ini cadangannya semakin menipis serta untuk optimalisasi pendapatan negara dari migas bagi kelangsungan pembangunan. Namun, pengembangan pemanfaatan batubara dalam negeri masih terkendala dengan keterbatasan infrastruktur pendukung terutama dalam hal transportasi dan distribusi. Disamping itu, harga jual batubara dalam negeri yang lebih rendah dibandingkan harga di pasar internasional menyebabkan produsen batubara lebih menyukai pasar luar negeri dibandingkan pasar dalam negeri.
Oleh karena itu, guna menjamin ketersediaan batubara untuk keperluan domestik, maka Pemerintah perlu mengatur keamanan suplai karena dapat berdampak kepada terganggunya kegiatan sektor lainnya terutama pasokan batuibara untuk pembangkit listrik. Dalam beberapa bulan terakhir ini harga batubara di pasar internasional meningkat cukup tajam (mencapai US$ 50 untuk pasar spot). Tingginya harga ini terkait dengan naiknya konsumsi batubara pada hampir semua negara konsumen terutama Cina dan dampak dari tingginya harga minyak di pasar internasional (sejak terjadinya perang di Irak) sehingga banyak industri yang beralih dari minyak kepada gas dan batubara..
Namun, Indonesia tidak dapat memanfaatkan momentum ini walaupun dari sisi cadangan hal ini sangat dimungkinkan tetapi dari sisi produksi terkendala karena sejak lima tahun terakhir tidak ada investasi untuk pembangunan tambang baru akibat berbagai permasalahan internal seperti keamanan, sistim perpajakan, tumpang tindih penggunaan lahan, dan isu-isu lainnya Berbagai upaya telah dilakukan Pemerintah untuk menyelesaikan hal ini tetapi belum memberikan kemajuan yang berarti. Dampak dari semua persoalan di atas tidak hanya akan mengurangi daya saing Indonesia di pasar internasional, namun yang lebih serius lagi adalah terganggunya stabilitas suplai untuk keperluan dalam negeri. Untuk itu diperlukan kepaduan kebijakan dari seluruh sektor terkait serta pembenahan fasilitas infrastruktur pendukung yang memungkinkan industri ini bekerja pada kapasitas optimalnya, baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun untuk memanfaatkan peluang ekspor.