Batubara Muda Untuk Pembangkit Listrik
18 Agustus 2002
INDONESIA termasuk negara dengan sumber tambang batu bara terbesar di dunia. Cadangannya diperkirakan 36,3 milyar ton. Hanya saja 50-85 persennya berkualitas rendah. Ini dilihat dari nilai kalori pembakarannya yang rendah, dan kadar sulfur serta airnya yang tergolong tinggi. Karena itu, batu bara muda yang disebut juga batu bara lignit atau batu bara cokelat tidak ekonomis dimanfaatkan sebagai bahan bakar.Bila sumber energi ini dibawa ke lokasi yang jauh dari areal tambang, maka biaya transportasinya menjadi mahal. Karena ongkos angkut itu sebenarnya dikeluarkan untuk membawa air dan abu yang nantinya harus dibuang dalam proses pemanfaatan batu bara.
Ketika dibakar, banyak energi yang terbuang untuk menguapkan air, sedangkan nilai kalori yang diperoleh relatif rendah. Selain itu, kandungan sulfur yang tinggi akan menjadi gas pencemar. Karenanya diperlukan biaya tambahan untuk mengurangi emisi gas sulfur.
Dengan adanya masalah tersebut, bila terdapat lapisan batu bara lignit dalam penambangan batu bara, maka penambang hanya mengambil lapisan yang berkualitas tinggi. Sedangkan batu bara lignit akan disingkirkan atau ditimbun kembali di lokasi tambang.
Pemanfaatan lignit
Belakangan ini, dengan dihapusnya subsidi BBM (bahan bakar minyak) yang melambungkan harga BBM di Indonesia, batu bara mulai dilirik. Dalam perhitungan Firdaus Akmal, Dirut PT Indonesia Power, bahan bakar ini lebih murah dibandingkan BBM. Bila menggunakan solar atau Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), harga listrik mencapai Rp 500 per kWh. Dengan batu bara, biaya pembangkitan hanya sekitar Rp 50 per kWH. Dengan demikan akan menghemat biaya kurang lebih Rp 30 milyar per tahun.
Namun, untuk menggunakan batu bara-dalam hal ini batu bara muda sebagai bahan bakar pembangkit-perlu ada pendekatan khusus, masalahnya karena ada faktor kendala, yaitu kandungan air dan sulfur yang tinggi.
Solusi yang diambil adalah membangun instalasi pembangkit dekat daerah pertambangan batu bara, sehingga biaya transportasi minimal. Selain itu juga dikembangkan teknis proses pembakaran batu bara muda yang dapat mereduksi gas sulfur ke udara sehingga pencemaran gas ini pun dapat ditekan.
Pemanfaatan lignit ini sebagai bahan bakar pembangkit listrik di mulut tambang, sebenarnya pernah dirintis pada tahun 1997 oleh BPPT beker ja sama dengan HRL (Herman Research Laboratory) Technology Pty Ltd Australia, PT Bukit Asam, Departemen Pertambangan dan Energi, serta PT PLN. Namun menurut penjelasan Bambang Gambiro, Direktur Teknologi Pengembangan Sumber Daya Energi BPPT, kepada Kompas akhir Juli lalu, proyek itu terhenti pada tahun 1998 karena krisis ekonomi.
Padahal menurut rencana akan dilakukan uji coba penggunaan batu bara muda dari Tanjung Enim Sumatera Selatan dan beberapa tempat di Indonesia, menggunakan sistem proses IDGCC (Integrated Drying Gasification Combine Cycle). Pengembangan teknologi IDGCC ini sendiri di Australia, telah dimulai sejak tahun 1990.
Dasar prosesnya pada pengeringan dan gasifikasi batu bara untuk digunakan pada turbin gas siklus ganda. Karena menggunakan siklus pembakaran ganda, efisiensi konversi energi dengan teknologi IDGCC dapat dinaikkan dari 29 persen menjadi 42 persen. Hasil penelitian dan evaluasi ekonominya menunjukkan, teknologi itu layak dan ekonomis.
Pembangkit listrik 10 MW yang menggunakan sistem IDGCC di Morwell Victoria mampu memproses 240 ton batu bara muda per hari. Riset yang dilakukan HRL antara lain bertujuan mengurangi biaya pembangkitan dan emisi gas CO2 yang dikeluarkan pembangkit listrik batu bara muda.
PLTU Berau
Upaya pemanfaatan batu bara mulai dirintis lagi tahun 2002. Kali ini akan dicoba menggunakan batu bara muda di Berau, Kalimantan Timur. Peletakan batu pertama pembangunan PLTU Mulut Tambang ini telah dilakukan Menristek Hatta Rajasa, Bupati Berau H Masdjuni, Dirut PT Berau Coal Jeffry Mulyono, dan Dirut PT Indonesia Power Firdaus Akmal, pada akhir Juli.
Seperti dikemukakan Masdjuni, upaya pemenuhan kebutuhan listrik bagi masyarakat daerah ini telah diprogram cukup lama oleh Pemda Kabupaten Berau. Selama ini energi listrik yang dipasok PT PLN (Persero) Ranting Tanjung Redep menggunakan PLTD telah maksimal memenuhi kebutuhan masyarakat setempat.
Ini terlihat dari daya pembangkitan yang mampu dihasilkan PLTD sekitar 5,6 MW sedangkan beban puncaknya telah mencapai 5,4 MW. “Akibatnya, PLN terpaksa melakukan pemadaman secara bergilir bila terjadi kerusakan mesin,” ungkapnya. Sementara itu, permintaan penyambungan listrik sebesar 9,6 juta kWh namun yang terpenuhi baru 7,9 juta kWh. Masih kurang sekitar 1,6 juta kWh.
Jeffry mengatakan, PLTU Berau merupakan upaya pemanfaatan potensi batu bara muda yang melimpah dan mengurangi pemakaian solar. Dengan demikian juga akan menggantikan fungsi diesel yang biaya operasinya mahal. Proyek ini juga sebagai pilot project bagi daerah lainnya yang kaya dengan batu bara kalori rendah.
Tambang batu bara PT Berau Coal saat ini menggunakan daya sebesar 3,3 MW dengan produksi batu bara sekitar 6 juta ton per tahun. Sekarang ini kebutuhan daya listrik PT Berau Coal dipasok sendiri dari PLTD milik PT Berau Coal dengan bahan bakar solar.
Dikemukakan Firdaus, selain Berau beberapa kabupaten di Kalimantan Timur telah menandatangani MoU untuk pembangunan fasilitas yang sama yaitu dengan Sangata, Malinau, dan Tanjung Redeb. Sedangkan Kabupaten Pasir juga telah menyatakan keinginannya.
PLTU Mulut Tambang ini lokasinya berada di Desa Sambakungan, Kecamatan Gunung Tabur yang dikenal dengan nama daerah Lati itu dibangun atas kerja sama antara PT Indonesia Power, Pemda Kabupaten Berau, PT Berau Coal, dan BPPT. Proyek ini rencananya akan selesai pembangunannya pada bulan Agustus-September 2003, dan beroperasi secara komersial pada akhir tahun 2003.
PLTU berkapasitas 2×6 MW tersebut, jelas Kepala Unit Pelaksana Teknis Laboratorium Sumber Daya Energi BPPT Agus Rusjana Hoetman, - yang mendesain pabrik tersebut - menggunakan sistem modul sehingga pembangunannya bisa menghemat biaya sekitar 30 persen. Biaya pembangunannya sekitar 10,5 juta dollar AS.
Instalasi pembangkit ini terdiri dari dua boiler stoker yang mampu membakar batu bara buangan dari berbagai peringkat tanpa menimbulkan masalah dalam pencapaian efisiensi dan memenuhi persyaratan lingkungan.
Desulfurisasi
Meskipun menggunakan batu bara dengan kandungan sulfur tinggi sekitar 1.7 - 3 persen, namun pembangkit listrik ini dilengkapi dengan peralatan desulfurisasi sehingga diharapkan kadar SO2 yang dihasilkan tidak lebih dari 750 ppm sesuai dengan baku mutu lingkungan hidup. Demikian juga dengan efek pencemaran lainnya.
Instalasi PLTU pengoperasiannya dengan kendali jarak jauh dari ruang kontrol menggunakan sistem kontrol berbasis microprocessor. Sedang penyaluran kepada masyarakat dilakukan dengan menggunakan sistem pendistribusian yang sudah ada, yaitu distribusi 20 kV, mengikuti jalur substation Lati ke substation Sambaliung yang melewati area di sekitar proyek.
Bahan baku batu bara akan diangkut dari tambang Lati yang dimiliki PT Berau Coal dengan menggunakan dump truk dari area penumpukan batu bara buangan (reject) di tambang Lati ke PLTU yang berjarak sekitar 2 kilometer. Luas areal tambang batu bara di Berau seluas 15.600 hektar, yang berada di Binungen, Lati, Punan, dan Kelai. Di Lati sendiri kawasan penambangannya seluas 6.984 hektar.
21 September 2006 pukul 11:02 am
saya baru mau memulai bisnis batu bara, dapat kah saya diberi tahu apa2 saja yang terpenting dalam kandungan batu bara tersebut dan apa2 saja yang bisa mempengaruhi kadar2 tersebut.
terima kasih
28 September 2006 pukul 4:19 am
saya minta perhitungan untuk membandingkan harga per kwh untuk setiap jenis pembangkitnya..dan faktor apa saja yang mempengaruhi harga tersebut
12 Juni 2007 pukul 2:39 am
Di sumatera selatan jenis batu bara nya adalah Lignite. Berdasarkan tulisan Fariz Tirasonjaya, bahwa masalah dari batu bara lignite adalah kandungan sulfur dan air nya yang tinggi.
Saya mau dapat klarifikasi, yang mana yang benar.
Bukannya penggunaan lignite ada kendala di kandungan sulfur dan ash yang tinggi?
Robi
27 Juni 2007 pukul 9:53 am
batubara sumsel memang kebayakan lignit, tetapi punya keunggulan memiliki kadar sulfur yang kecil. Gasifikasi juga dapat mengurangi emisi CO2 dari pembakaran batubara muda secara konvensional. Apaka IDGCC prinsipnya sama dengan IGCC? bagaimana teknologinya ? investasinya ?
25 Juli 2007 pukul 7:22 am
Cilegon, July 25, 2007
No. 144/CC/VII/2007
Dear our value customer.
Subject: Quotation for Discharging Supervision and Loading Supervision of cargo
Dear Sirs,
At first, we are pleased to introduce our company, PT. Carsurin, one of private independent surveying company with was established in 1968.
Our Company deals with comprehensive range of service comprising independent survey, Laboratory, Marine consultancy, Lloyd’s Agency and Recognized Security Organization (RSO) for ISPS Code and Developing world wide non exclusive agencies as our business network.
As an experienced independent Surveying Company, We herewith would you like to submit a quotation as mentioned above with description as follows :
1. Scope of Job :
a. Supervision of Discharge (Including Quantity Determination)
b. Supervision of Load (Including Quantity Determination)
c. Sampling and Analysis
d. Draft Survey
Concerning the above survey fees should be discussible.
We hope this quotation will meet your requirement and should any inquiry, please feel free to contact us.
For your kind attention and trust to our company will be highly appreciated.
Thank you.
Best Regards,
Eddy Rusly
Branch Manager
PT. CARSURIN CILEGON
Komplek Arga Baja Pura
Jl. Arga Muria Blok BII/No. 8
Cilegon
Telp. 62 254 7036810, 62 254 574915
Fax. 62 254 574915
Email. eddy.r@carsurin.com, cilegon@carsurin.com
Web, http://www.carsurin.com
Mobile phone : 081510534503
25 Juli 2007 pukul 7:24 am
kami sebagai perusahaan surveyor, sangat mendunkung perusahaan tambang batu bara, kami telah lama, banyak berkiprah dibidang ini, terutama di daerah kalimantan.
terima kasih.
23 Agustus 2007 pukul 2:00 pm
di kabupaten tanah bumbu dan kabupaten kota baru khususnya daerah serongga kalimantan selatan rata2 mempunyai potensi lahan batubara Low calory dan sampai sekarang pun para penambang rebut2an lahan untuk ditambang karena Batubara Low calory saat laku di pasaran
6 Nopember 2007 pukul 7:26 am
terimakasih atas info nya tentang pemanfaatan batubara.saya berharap dapat informasi lebih detail tentang gasifikasi batubara. di tunggu ya
22 Mei 2008 pukul 4:00 am
Mumpung sekarang BBM mau naik, banyak demo, dari perusahaan batubara dan manajemennya, ada gak yang berpikir untuk membuat BBM bukan lagi dari bahan minyak bumi tetapi batubara?? ini mungkin akan lebih irit dan lebih murah bukan? sehingga demo, kemiskinan juga bisa dikurangi…
12 September 2008 pukul 2:30 pm
salam ..andai sj d pekalongan ada batubara,mungkin aq akan membuka bisnis batubara.